fadlyfauzie's Blog

Banyak sumber membuat bijaksana

Posted on: Februari 14, 2012

Alhamdulillah, berbagai arus ilmu begitu deras sekarang ini, semakin mudah kita menggali ilmu karena aksesnya semakin mudah didapat. Terlebih setelah majunya teknologi, berkembangnya media massa, media cetak atau dunia pers. Dan juga zaman yang telah bereformasi[sejak 1998] telah memberikan dampak dimana tidak mudah bagi pemerintah untuk membredel suatu siaran, buku, atau perkumpulan.

Begitu juga halnya dengan akses ilmu agama, sekarang ini terbuka peluang besar memahami agama kita [Islam]. Banyak bemunculan perkumpulan-perkumpulan baru, gerakan-gerakan baru, jama’ah-jama’ah baru, tarekat-tarekat baru. Itu terjadi karena asas kebebasan yang diusung negeri ini setelah Reformasi didengungkan. Berbagai pemikiran berasal dari luar negeri banyak masuk ke negeri kita, tiada lain tujuan mereka adalah untuk berdakwah, member pemahaman Islam yang benar. Sebelum Reformasi organisasi dakwah yang berkembang pesat di negei ini adalah NU dan Muhamadiyah. Tetapi sekarang banyak muncul ke permukaan seperti Salafi, Hizbut-tahrir, Front pembela Islam, Tarbiyah, Tarekat/sufi. Keberagaman ini menjadikan kita kaya akan pengetahuan dan juga perbedaan [khilafiyah] dikarenakan perbedaan pemikiran ulamanya pada hal furu’[cabang]. Namun ada juga yang saling bertentangan tentang ideology dan juga konsep kenegaraan. Sebenarnya hal ini adalah suatu keniscayaan seperti yang disampaikan baginda Rosulullah bahwa umat islam ini akan terpecah dalam banyak golongan, dan selamat hanya ada 1 golongan yaitu golongan yang mengikuti sunnahnya.

Bagi orang awam tentunya akan serba membingungkan [seperti saya]. Suatu hal yang pasti agar kita selamat adalah mengikuti ajaran Islam yang sesuai dengan ahlusunnah wal jama’ah [para pengikut sunah dan banyak diyakini oleh kebanyakan orang]. Banyak golongan mengklaim bahwa golongannya adalah Ahlusunnah waljama’ah, nah makin bingung saja tuh….berdasarkan hadits yang benar cuma satu tidak mungkin benar semuanya. Perbedaan pandangan yang ada ini sangat rawan adanya sifat fanatic berlebihan pada suatu golongan. Tidak sedikit sesama muslim saling berbantah-bantahan mempertahankan argumentasinya, mulai dari ulama, ustadz, santri, bahkan orang yang baru belajar agama kemarin sore pun suka ikut-ikutan. Bahkan tak tanggung-tanggung suka sampai mengeluarkan kata cemoohan,kutukan, kasar. Hhhmmm sesak dada ini melihatnya banyak kutemukan di situs-situs internet. Kenapa sesak? Iya karena masa sesame Muslim saling menjatuhkan???apalagi menuduh seseorang kafir.

Sebenarnya pemasalahannya adalah ada di kebesaran hati, kebijaksanaan menghadapi perbedaan, dan mau atau tidaknya menerima koreksi orang lain. Bagi yang taqlid buta [mengikuti salahsatu guru saja] akan sulit menerima pandangan dari orang lain karena merasa yang dipahaminya selama ini adalah sudah benar semua, “wong yang bilang adalah gurunya masa sih harus su’udzon pada guru” atau pada kasus lain guru=buku.

Benar bahwa kita tidak boleh su’udzon, akan tetapi akan lebih baik lagi bila kita mencari referensi lain[ke guru,ustadz,ulama lain atau buku yang lain]. Kemungkinan besar kita akan menemui apa yang namanya perbedaan. Dengan terkumpulnya sumber ilmu maka kita akan semakin kaya, dan tentunya akan semakin bijak. Kita akan bisa membandingkan mana yang kira-kira sesuai dan mana yang tidak sesuai. Semakin bertambah ilmu kita dituntut untuk tawadhu. Sehingga kebijaksanaan berimplikasi pada diri kita untuk tidak mudah memvonis, menuduh, mengutuk sesame muslim, apalagi yang paling parah mengkafirkan.

Bercerita tentang pengalamanku menghadapi perbedaan pandangan dalam agama. Sebenarnya saya berada dalam banyak pengaruh. Pertama saya adalah orang yang bisa disebut islam abangan dibesarkan dari orang tua berlatar belakang orang teknik, dan keluarga besar yang sebagian besar berfaham NU. Aku belum pernah masuk pesantren, namun waktu kecil sering ikut pesantren kilat dan madrasah diniyah. Kakakku sewaktu SMA masuk ke pesantren, kemudian pas kuliah masuk ke kampus berfahamkan Al-Irsyad. Kemudian Saya beranjak menjadi remaja sempat belajar agama di Islamic center, namun saat itu saya sering baca majalah Ar-risalah yang sumber2nya kebanyakan dari ulama terkenal seperti Ibnul Qoyyim, ibnu taimiyah, hasan al-bashri. Seketika saya jadi tertarik pada pemahaman salafi , maka kudownload aja tuh artikel dalam bentuk website offline. Saat itu aku jadi tertarik dan bisa juga dikategorikan fanatic dimana saat itu aku dengan mudahnya mengatakan itu Bid’ah, itu haram, itu haditsnya dho’if [padahal ibaratnya baru belajar agama kemarin sore, santri aja bukan]. Jelas saja karena saya tinggal di lingkungan NU. Namun seiring waktu pas SMA saya masuk ROHIS, dan membaca majalah Ar-risalah tetap dirutinkan karena menurutku isinya selalu netral tidak ada penekanan suatu kelompok tertentu. Di SMA aku jg banyak belajar terutama tentang usaha syi’ar Islam.

Kemudian tiba saatnya masa kuliah, saya masuk salahsatu kampus berbasis Muhamadiyah. Muhamadiyah dimana dakwahnya memberantas TBC takhayul, bid’ah, churafat serta ajakan untuk kembali pada alqur’an dan assunnah [materi kuliah kemuhamadiyahan,hehe]. Dan dalam hal organisasi saya masuk UKM LDK, yang mana kebanyakan banyak mengadopsi dari konsep pergerakan Ikhwanul muslimin.

Semua itu kujalani, kutampung bila ada yang kurang pas ditinggalkan, bila benar dipertahankan, bila samar banyak belajar lagi dan tinjau maslahat-madharatnya. Alhamdulillah saya tidak terlalu fanatic lagi dengan salafi, dimana saat itu dengan mudah saya memvonis, meskipun dakwah yang diusung adalah ahlusunnah waljama’ah. Namun Dalam prakteknya ada hal yang kurang ahsan.

Bicara soal fiqih sejak SD saya harus berganti berkali-kali untuk hal sujud, “tangan dulu atau kaki dulu?”, trus mengenai “jumlah Raka’at sholat Qiyamu Romadhon antara 11 atau 23?”. Alhamdulillah sekarang aku semakin bijaksana menghadapi perbedaan ternyata hal diatas kedua2nya adalah dibenarkan. Aka nada banyak hal lain juga yang menuntut kita untuk bijaksana. Dan apabila belum tahu menuntut kita untuk terus belajar. Bukan saatnya lagi kita bertengkar sesame muslim, kecuali memang untu hal-hal mendasar seperti aqidah ini tidak ada toleransi.

Jadi kesimpulannya kita tidak boleh memvonis seseorang kafir, masuk surga, masuk neraka meskipun selama hidupnya diketahui amalan-amalannya. Dan juga karena status kita itu ditentukan dengan bagaimana kondisi akhir kita, husnul khotimah atau Su’ul Khotimah. Mari pilah pemahaman kita disesuaikan dengan Alquran dan keshahihan hadits, serta pendapat ulama yang bertanggung jawab.

Banyak belajar semakin bijaksana🙂

celotehan seseorang yang masih fakir dalam ilmu agama, tolong koreksinya ya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

My Instagram

Menghabiskan petang bersama di @kedaiomgendut ,soda mintnya bikin seger... Bersama mamang beca kota Banjar, sunmor. Dempet2an maklum pant**nya sama2 lebar 😅😅 Pemandangan danau dan pura bedugul dari atas masjid besar bedugul. Disini udaranya dingin dan sering hujan, ibarat lembangnya bandung atau kaliurangnya sleman. #bedugul #bali #keren👍

Terimakasih atas kunjungannya ^^

arsipp

Februari 2012
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
272829  

Blog Stats

  • 176,135 hits

jadwal sholat untuk daerah kasihan-bantul-YKT

Zifa Engineering Consultant

my workplace

pengunjung

free counters

peta

twitter

%d blogger menyukai ini: