Fadlyfauzie's Blog

Archive for the ‘lingkungan’ Category

Proses konstruksi sebuah jalan membutuhkan sumber daya yang tidak sedikit. Omri Dahlan dan Alex Goykham dalam artikelnya “The Importance of Green Roads” menyajikan sebuah data mencengangkan bahwa dalam setiap pembangunan 1 mil jalan dengan seluruh prosesnya yang dimulai dari penambangan material, pengangkutan, dan konstruksi menghasilkan polusi sebesar 1200 ton. Hasil yang setara dengan polusi yang ditimbulkan oleh 210 mobil dalam kurun waktu setahun

Dalam setiap proses konstruksi jalan pasti menimbulkan beberapa dampak, yaitu mengubah kondisi dan fungsi lahan, konsumsi sumberdaya alam tak terbarukan dalam jumlah besar, dan menghasilkan polusi dan limbah.

Jumlah lajur di Indonesia pada tahun 2014 direncanakan akan menjadi 60.674 lajur mil. Itu artinya proyek ini akan menyumbang sampah karbon sebesar 72.808.800 ton. Angka yang fantastis!, namun sangat menyesakkan dada. Efek gas rumah kaca yang ditimbulkan jelas akan semakin terasa.

Hal yang sangat dibutuhkan adalah inovasi di bidang konstruksi jalan agar pelaksanaannya tetap mengindahkan prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Pembangunan berkelanjutan merupakan proses pembangunan yang menjadikan faktor kelestarian lingkungan sebagai pertimbangan utama. Para pakar jalan yang memperhatikan faktor kelestarian lingkungan. Konsepnya disebut sebagai “Green Roads” atau jalan ramah lingkungan.

utama_FuDlRrSTt6_20130510

Green Roads : Apa dan Bagaimana?
Definisi green roads adalah kegiatan penyelenggaraan jalan yang menerapkan prinsip lingkungan dimulai dari tahap pembiayaan, perencanaan, desain, konstruksi, dan pemeliharaan jalan. serta penanganan dampak perubahan iklim. Sedangkan prinsip lingkungan adalah prinsip yang mengedepankan dan memperhatikan unsur pelestarian lingkungan seperti pemanfaatan secara efektif dan efisien  sumber daya air dan energi, pengurangan limbah dan polusi, dan pensinergisan lingkungan alami dan buatan.

Untuk mewujudkan konstruksi jalan yang ramah lingkungan dibutuhkan beberapa tahapan. Dimulai dari peninjuauan level kebijakan yang mendukung terciptanya kondisi jalan yang ideal. Dalam undang-undang nomor 38 tahun 2004 tentang jalan, pasal 2 menyebutkan bahwa penyelenggaraan jalan berdasarkan pada azas kemanfaatan, keamanan dan keselamatan, keserasian, keselarasan, keseimbangan, keadilan, tranparansi, dan akuntabilitas, keberdayaan, dan keberhasilan, serta kebersamaan kemitraan.

Masih dalam peraturan yang sama, pasal 5 ayat 1 bahkan menyatakan faktor sosial dan lingkungan secara lebih spesifik. Jalan sebagai  bagian prasarana transportasi mempunyai peran penting dalam bidang sosial, budaya dan lingkungan hidup, politik, pertahanan dan keamanan, serta dipergunakan sebesarnya untuk kemakmuran rakyat. Secara langsung peraturan tersebut sebenarnya sudah “mengisyaratkan ” agar pembangunan jalan Indonesia menjadi lebih ramah lingkungan. Namun agaknya kebijakan ini perlu diruncingkan dalam peraturan pemerintah agar pelaksanaannya lebih terarah.

Dalam pembangunan green roads dikenal beberapa prinsip penting, yaitu meminimalkan pemanfaatan energi dan air, mengurangi penggunaan sumber daya alam tak terbarukan, desain dan material yang meminimalkan dampak lingkungan akibat pembangunan dan pengoperasian jalan (polusi udara, suara, getaran, dan limbah), serta lansekap jalan membaur dengan lingkungan sekitar.

Mengoptimalkan wilayah di sekitar jalan sebagai daerah tangkapan dan resapan air merupakan salahsatu kriteria green roads. Selain itu, memanfaatkan materi daur ulang untuk meminimalkan bahan buangan, dan mereduksi energi dalam pembuatan jalan juga menjadi kriteria gree roads.

Penerapan green roads yang paling mudah dilakukan adalah penghijauan di sekitar jalan. Pohon-pohon sebagai penyuplai oksigen dianggap manjur untuk mengurangi pencemaran karbon.

Hal lain yang patut digalakkan adalah pemanfaatan teknologi “rumput beton” vetiver di lereng jalan untuk menangani masalah erosi dangkal. Penggunaan aspal daur ulang merupakan alternatif bijak untuk mengurangi pengguanaan material baru.

Sudah seharusnya metode pencampuran aspal hot mix  ditinggalkan/dikurangi dan beralih ke metode low temperature asphalt pavement. Metode ini lebih ramah lingkungan karena mengkonsumsi lebih sedikit energi dan menghasilkan lebih sedikit limbah. Puslitbang Jalan dan Jembatan telah mengembangkan teknologi yang berkaitan dengan kriteria green roads. Yang seharusnya dilakukan adalah mendorong penerapannya dalam pembanguanan jalan di Indonesia.

Pembuatan lajur sepeda yang aman dan akomodatif merupakan salahsatu kebijakan penerapan green roads  yang paling dinanti oleh warga kota besar. Mendorong penggunaan sepeda sejatinya merupakan solusi yang cukup ampuh untuk mengurangi emisi gas buang kendaraan bermotor. Selama ini banyak warga yang enggan menggunakan sepeda karena belum tersedianya jalur sepeda yang aman dan nyaman untuk dilewati. Penerapan prinsip ramah lingkungan dalam pembangunan dan penggunaan jalan menjadi pilihan yang harus dilaksanakan. Karena perubahan iklim  akan tetap terjadi dan yang bisa dilakukan oleh manusia hanyalah memperlambat lajunya. (Nanda/Majalah Dinamika Riset edisi April-Juini 2013, Litbang Pekerjaan Umum)

Tulisan ini searah dengan tujuan Kelompok Program Penelitian (KPP) Jalan dan Jembatan yang ramah lingkungan.
Link:

5

Kota Banjar punya sanitary landfill loh….!keren kan?
Apa itu sanitary landfill? yaitu tempat pembuangan sampah terpadu

Berikut ini adalah Profil TPA Kota Banjar yang disalin dari blog  http://tpakotabanjar.blogspot.com

Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Cibeureum, Kecamatan/Kota Banjar menjadi percontohan penerapan sistem 3R (Reuse, Reduce, Recyle) kategori kota kecil. Tampak salah satu sudut TPA Cibeureum yang mengelola 3R terlihat bersih.*

Konsep Pembangunan TPA:

  • Membangun TPA yang terintegrasi dengan pengelolaan persampahan
  • Merancang secara rekayasa sarana prasarana Landfill
  • Merencanakan pengoperasian Landfill dengan kaidah yang tepat guna
  • Merencanakan pemantauan sarana baik selama masa operasi maupun pada pasca operasi
  • Merencanakan Sistem operasi TPA Kota Banjar dengan 2 sistem : Sanitary Landfill dan Komposting
  • Perencanaan pengelolaan sampah yang terpadu dan efektif
  • Merencanakan pengoperasian TPA dengan fungsi regional
  • Merencanakan kesatuan jaringan antara TPS dengan TPA dalam satu sistem operasi

Konsep Teknis :

  • Pembangunan Zona Cell (cekungan sampah)
  • Pembangunan gedung pengolah sampah
  • Pembangunan Sarana pengolahan Leacheate
  • Pembangunan Kantor TPA
  • Pembangunan Hanggar Kendaraan dan Alat Berat
  • Pembangunan Buffer zone
  • Pembangunan Jalan Manuver
  • Pembangunan Utility
  • Pengadaan Mesin Pengolah Sampah
  • Pengadaan Alat berat
  • Pengelolaan 3 R (Reduce, Reuse, Recycle)

Sistem Operasi :

  • Sanitary LandFill
  • Komposting
  • Peletasi/Granul
  • B3 (Bahan Berbahaya Dan Beracun)/Penelitian Laboratorium
TPA sebagai Center Of Education Persampahan

Kota Banjar adalah satu-satunya Kota yang terpilih untuk menerima bantuan Puskim sesudah melalui seleksi dan evaluasi terhadap ujicoba model berskala 1 : 1 yang diharapkan akan menjadi standar operasional terhadap pengelolaan sampah yang berbasis 3 R.
Dan untuk selanjutnya TPA Kota Banjar akan menjadi etalase Puskim sebagai Center Education Pengelolaan Persampahan.

[Kegiatan 3R dan Komposting]

[Penerapan Geotextile Geomembran]






[Proses Sanitary Landfill]



 

 

Krisis air di Pulau Jawa diperkirakan akan terjadi tahun 2015. Hal tersebut dikarenakan daya tampung air yang kurang dan kecenderungan masyarakat masih menggunakan air tanah secara berlebih. Krisis air tersebut akan dihadapi baik terhadap kualitas maupun kuantitas. Direktur Pengembangan Air Minum, Ditjen Cipta Karya Danni Sutjiono mengatakan hal tersebut Kamis (21/6) di Studio TV One, Jakarta.

“Hingga kini, sekitar 62% warga Jakarta dapat menikmati pelayanan air perpipaan. Untuk pemerataan layanan jaringan air, diharapkan masyarakat di dekat instalasi air melakukan penghematan penggunaan air. Sehingga masyarakat di hilir dapat ikut menikmati air bersih,” ujar Dani.

Disebutkan Dani, penyebab krisis air antara lain pencemaran air, deforesasi, dan pemanfaatan air secara berlebih baik air permukaan maupun air tanah. Hal-hal tersebut menyebabkan krisis air baik secara kualitas maupun kuantitas. Untuk menangani krisis air, Kementerian PU telah bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan instansi terkait. Program dan kegiatan seperti Hemat Air telah dilaksanakan. Hal penting yang juga diperlukan dalam mengatasi masalah air adalah pemahaman dan partisipasi masyarakat dalam pemanfaatan dan menjaga kelestarian air bersih.

Untuk menjaga ketersediaan air permukaan, PU telah membangun waduk dan bendungan. Di Pulau Jawa antara lain Waduk Jatiluhur, Waduk Jatigede dan Waduk Karian. Distribusi dilakukan melalui sistem perpipaan yang diharapkan  dapat mencapai masyarakat hingga pelosok desa. (ind)

Taman Alun-alun

Taman Alun-alun

Kalo yang ini adalah taman di pusat Kota banjar, menjadi primadona warga untuk bermain dikala Sore hari atau Minggu pagi.

Taman Parungsari-1

Taman Parungsari-1 (sisi barat)

Nah kalo ini taman andalan para kawula muda. Biasanya penuh ketika Minggu pagi. Konsepnya seperti diceritakan di dalam Al-Qur’an “Jannatin tajri min tahtihal anhar” atau taman-taman yang dibawahnya mengalir sungai-sungai (Citanduy), hehe

Taman Situ Mustika

Taman Situ Mustika

Nah kalo ini taman yang alami, rindang sekali. Ada jogging tracknya. Ada telaganya dimana hasil membendung selokan kecil yang airnya berasal dari bukit. Cocok sekali untuk agenda outbond.

Taman Alun-alun Kec. Langensari

Taman Alun-alun Kec. Langensari

Kalo ini alun-alun ke-2 di Kota Banjar, terletak di kecamatan Langensari. Cukup Besar dan tertata rapi. Warga banyak bermain kesini ketika sore hari.

Taman Parungsari-2

Taman Parungsari-2 (sisi timur)

Bagi para ABG ini menjadi spot yang sering digunakan untuk bernarsis,berfoto-foto.

Banjar, (harapanrakyat.com Edisi 13 Juni 2012),- Sejumlah masyarakat berharap, pemerintah segera melanjutkan pembangunan taman kota sesuai dengan konsep yang telah direncanakan oleh pemerintah. Hal itu terkait dengan penataan dan pemanfaatan eks Lapang Bhakti yang akan dijadikan taman kota untuk memenuhi kebutuhan sarana/ ruang publik di Kota Banjar, yang direncanakan rampung tahun 2012.

Lokasi Pembangunan Taman dan Sport center

Lokasi Pembangunan Taman dan Sport center

Sebelumnya diketahui, bahwa untuk pembangunan tahap awal berupa penataan infrastruktur bawah tanah, yakni resapan air di sekitar kawasan telah selesai dibangun dengan anggaran sebesar Rp.700 juta.

Namun, hingga saat ini masih belum terlihat adanya aktifitas untuk pembangunan lanjutannya. Padahal, masyarakat sangat menantikan terwujudnya taman kota dengan berbagai fasilitas, sehingga kawasan tersebut bisa menjadi pusat aktifitas kebugaran, refreshing, dan sentra bisnis.

Seperti dikatakan Kosim (46), warga Kel/Kec. Banjar. Dia berharap, sebaiknya pemerintah segera menata eks Lapang Bakti menjadi sebuah taman kota sesuai dengan konsepnya.

“Terus terang saja, saya sebagai masyarakat Banjar menginginkan pembangunan tanam kota di bekas lapangan bola ini secepatnya diselesaikan, sehingga di Banjar ini ada lagi tempat hiburan, refreshing atau sekedar nongkrong sambil ngobrol dengan rekan-rekan. Karena katanya taman kota itu nantinya akan dilengkapi berbagai fasilitas. Tapi kapan bisa terwujudnya,” tanya Kosim, Kamis (7/6).

Menurut dia, taman kota merupakan sebuah ruang terbuka yang dapat mengintegrasikan antara lingkungan, masyarakat, dan kesehatan di lingkungan perkotaan.

Selain bermanfaat bagi lingkungan, taman kota juga bermanfaat secara estetis, rekreasi, psikologis, sosial, serta ekonomis bagi masyarakat. “Makanya konsep pembentukan dan peran penting taman kota perlu dipahami oleh seluruh komponen masyarakat,” kata Kosim.

Harapan yang sama juga diungkapkan Euis (35), warga Kel/Kec. Purwaharja. Menurut dia, selama ini tempat yang paling banyak dituju masyarakat untuk refreshing adalah taman Alun-alun.

Namun, apabila lahan bekas Lapang Bhakti itu bisa segera dijadikan taman kota, dirinya yakin keramaian tidak hanya terpusat di Alun-alun saja, baik itu pada sore maupun malam hari.

“Tapi sayangnya pembangunan taman kota tersebut hingga saat ini belum juga dilanjutkan. Masyarakat Banjar ini sangat haus tempat hiburan. Tempat hiburan itu bukan berarti bioskop atau tempat karoke saja, taman kota juga menurut saya merupakan salah satu tempat hiburan,” ujar Euis, Jum’at (8/6).

Pendapat serupa diungkapkan Eman (43), warga Kel. Bojongkantong, Kec. Langensari. Dia mengatakan, jika saja rencana pembangunan taman kota dapat segera terwujud, maka keberadaannya akan menjadi sarana berkumpulnya masyarakat Banjar sendiri, maupun dari luar kota.

Untuk menyampaikan harapan dari masyarakat seperti itu, HR mencoba untuk mengkonfirmasikan kepada Dinas PU Kota Banjar melalui Bidang Cipta Karya. Namun, Kabid. Cipta Karya maupun Kasie. Perencanaan pada bidang tersebut tidak bisa ditemui.

Menurut salah seorang petugas penerima tamu, bahwa pejabat terkait sedang tidak ada di tempat. Karena mereka tidak bisa ditemui, akhirnya HR pun menemui Kabid. PSDA, karena memang ada keperluan juga pada bidang tersebut. Namun sebelumnya HR meminta ijin dulu kepada petugas penerima tamu.

Setelah mendapat ijin, HR masuk ke ruangan Kabid. PSDA. Tetapi, baru saja beberapa detik berada di ruangan itu, HR melihat Kasie. Perencanaan Cipta Karya berjalan keluar dari kantor. Padahal, petugas penerima tamu mengatakan dia sedang keluar/tidak ada di kantor.

Yang jadi pertanyaan, kenapa seorang jurnalis yang akan mengkonfirmasikan sebuah permasalahan secara baik-baik malah seakan-akan dipersulit, tetapi oknum jurnalis yang tidak jelas, dan datang hanya dengan maksud tertentu, artinya bukan untuk kepentingan jurnalistik, justru bisa dengan mudah dilayani.


Hidrologi atau ”Ilmu Air” merupakan cabang ilmu teknik sipil yang mempelajari pergerakan, distribusi, dan kualitas air di seluruh bumi, termasuk siklus hidrologi dan sumber daya air. Di era kejayaan peradaban Islam, para ilmuwan Muslim telah memberikan kontribusi yang besar bagi pengembangan hidrologi.

Salah seorang ilmuwan Muslim yang berjasa mengembangkan studi hidrologi adalah Muhammad al-Karaji, seorang saintis terkemuka dari Karaj, Persia. Lewat Kitab Inbat al-miyah al-Khafiya, al-Karaji mengkaji dan menyumbangkan pemikirannya dalam ilmu ekstraksi air bawah tanah. Berkat kehebatannya, ia bahkan mendapat julukan sebagai pelopor mesin air.

Studi hidrologi dibahas al-Kajari dalam Kitab Inbat al-Miyah al-Khafiya yang ditulisnya sekitar tahun 1000 M. Buku itu membahas cara untuk memperoleh atu mendapatkan  air yang terdapat di bawah tanah. Air tersembunyi itu bisa dimanfaatkan untuk menggerakan roda ekonomi dan kehidupan sosial.

Menurut para sejarawan, al-Karaji, menulis karya matematikanya di Baghdad, namun ia menyusun bukunya secara diam-diam  di perairan di wilayah Jaba, Persia. Di wilayah itu terdapat pengembangan beberapa proyek hidrolik, termasuk qanat.

Inbat al-Miyah al-Khafiya merupakan  satu-satunya buku teknik mesin karya Al-Karaji. Buku tersebut dicetak ulang pada era modern  di Haydarabad  tahun 1940. Edisi lain dikeluarkan pada tahun 1997 oleh Institute of Arabic Manuscripts di Kairo. Buku itu diterjemahkan ke dalam bahasa Persia oleh H  Khadiv-Djam pada 1966.

Buku itu juga dialihbahasakan ke dalam bahasa Prancis oleh Aly Mazaheri pada 1973. Dan muncul baru-baru ini dalam terjemahan bahasa Italia tahun 2007. Tidak ada terjemahan lengkap dalam bahasa Inggris dan bahasa Jerman.  Kitab ini disimpan di perpustakaan Universitas Pennsylvania, Sam Fogg, London, pada Desember 2000.

Dalam pengantar buku itu, al-Karaji mengungkapkan, dirinya terinspirasi membuat buku itu ketika tiba di Baghdad. Di metropolis intelektual dunia itu,  ia melihat  semua orang, dari mulai anak-anak hingga orang tua sangat mencintai ilmu pengetahuan. Hal tersebut mendorongnya untuk mengarang buku matematika, khususnya mengkaji aritmatika dan geometri.

Sekembali dari Baghdad, ia kemudian mulai melakukan penelitian ilmiah. Berbekal dukungan dari penguasa Muslim bernama Abu Ghanim Ma’ruf bin Muhammad, al-Kajari lalu  meneliti dan mencurahkan pikirannya bagi pengembangan hidrologi. Ia lalu memutuskan untuk menulsi buku tentang air yang  tersembunyi di perairan.

Inbat al-Miyah al-Khafiya merupakan  karya manual tentang hidrolik air yang sangat baik. Selain membahas hidrologi, buku ini juga berisi beberapa catatan biografis otomatis, serta diskusi dari serangkaian konsep relatif terhadap geografi dunia. Tak hanya itu, buku ini juga dilengkapi dengan beberapa pertanda dalam fenomena alam, dan memberikan perhatian yang besar untuk survei teknik, terutama hidrologi.

Islam telah menjelaskan Hidrologi Lewat Al-qur’an

Surat Ar Ruum 48 Siklus hidrologi

Mencakup proses evaporasi, kondensasi, hujan, dan aliran air ke sungai/danau/laut, Al-Qur’an dengan sangat jelas menjabarkannya. Evaporasi, adalah naiknya uap air ke udara. Molekul air tersebut kemudian mengalami pendinginan yang disebut dengan kondensasi. Kemudian terjadi peningkatan suhu udara, yang menciptakan hujan. Air hujan tersebut menyuburkan bumi dan kemudian kembali ke badan air (sungai, danau atau laut.

Ilmuwan muslim di atas melakukan rekayasa hidrolika berdasarkan ilmu hidrologi. Bahwasanya Air yang turun dari langit akan tersimpan di dalam tanah dalam aliran tanah dan aquifer. Aliran air tanah yang mempunyai tekanan tinggi kemudian dibelokan ke atas permukaan tanah melalui pipa-pipa artesis. Sehingga dapat menyediakan air untuk jaringan irigasi yang luas. Informasi tentang aquifer ini sudah dijelaskan di dalam Alqur’an :

Penemuan ilmuwan muslim itu telah memecahkan masalah kesulitan di dunia arab dimana kondisi alamnya yang bergurun dan kering. Hal ini merupakan kebanggaan bagi umat Islam, bahwasanya banyak dasar-dasar ilmu pengetahuan berasal dari Umat Islam.

Didalam al-quran banyak menjelaskan air dimana berasal dari hujan merupakan anugerah Allah yang sangat besar karena semua kehidupan ditopang oleh keberadaan air, tanpanya mustahil ada kehidupan di planet ini. Tidak tanggung-tanggung untuk mengurus urusan hujan Allo mengkhususkan memerintah 1 malaikat, yaitu malaikat Jibril. Tentang Hujan Alqu’an telah menjelaskan :

Dari pemaparan di atas telah jelas bahwa Islam adalah Diin yang Syaamil (Integral), Kaamil (Sempurna) dan Mutakaamil (Menyempurnakan semua sistem yang lain), karena ia adalah sistem hidup yang diturunkan oleh Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, hal ini didasarkan pada firman ALLAH SWT : “Pada hari ini Aku sempurnakan bagimu agamamu dan AKU cukupkan atasmu nikmatku, dan Aku ridhai Islam sebagai aturan hidupmu.” (QS. 5 : 3). Dengan luarbiasanya informasi yang terkandung dalam Al-qur’an tentang ilmu pengetahuan , jelas Al-Qur’an tidak ada yang sanggup manusia menyerupainya. Ini berurusan tentang firman Allah yang suci sebagai huda bagi makhluknya.

Oleh karena itu aturan Islam haruslah mencakup semua sisi yang dibutuhkan oleh manusia dalam kehidupannya. Demikian tinggi, indah dan terperinci aturan Sang Maha Rahman dan Rahim ini, sehingga bukan hanya mencakup aturan bagi sesama manusia saja, melainkan juga terhadap alam dan lingkungan hidupnya.

Referensi :

http://4antum.wordpress.com/2009/12/16/pelestarian-lingkungan-hidup-menurut-islam/

http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/khazanah/09/07/25/64621-studi-hidrologi-dalam-khazanah-islam

PERBAIKAN STABILITAS LERENG DENGAN METODE VEGETASI PRODUKTIF

Metode vegetasi produktif adalah metode stabilisasi lereng yang memanfaatkan tanaman sebagai media untuk mengikat tanah. Metode dengan memanfaatkan tanaman produktif sebagai tanaman pencegah erosi dan longsor ini, selain terfokus pada menciptakan lereng yang stabil , juga berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.

Menjelang awal tahun 2012 curah hujan di beberapa daerah di Indonesia semakin meningkat, bahkan di beberapa daerah sudah terjadi bencana banjir. Bahkan, longsor dan banjir bandang juga meluluhlantakan pemukiman masyarakat, seperti yang terjadi di Desa Tiang, Kecamatan Kejajar, Wonosobo Jawa tengah beberapa waktu lalu, yang menyisakan kepedihan mendalam bagi msayarakat yang tertimpa bencana.

Bagi daerah lain yang rawan longsor dan banjir, juga menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya bencana di musim hujan tersebut. Apalagi pada saat puncak musim hujan yang diprediksi akan terjadi antara Januari-Maret 2012 mendatang, masyarakat merasa was-was akan datangnya bencana yang sering terjadi saat musim hujan.

Di daerah-daerah yang rawan tanah longsor, pada saat curah hujan yang tinggi, ditambah dengan kondisi lereng yang tidak stabil, sangat rentang terhadap kelongsoran. Air hujan yang meresap ke dalam tanah, selain menurunkan nilai kohesi tanah, juga menambah massa tanah tersebut. Dari beberapa kasus longsor yang terjadi selama ini, diketahui terdapat enam tipe utama longsoran, antara lain : mengalir, ambrukan, melorot, meluncur, merayap dan jatuhan. Seluruh tipr longsoran tersebut diakibatkan karena tidak adanya ikatan yang kuat antara lapisan tanah atas (topsoil) dan lapisan bedrock di bawahnya.

Resiko Longsor

Pada kondisi lereng yang stabil massa lapisan tanah atas mampu ditahan oleh kohesi antar partikel tanah topsoil, adhesi lapisan topsoil dan bedrock. Jika terdapat vegetasi pada lapisan tanah atas, akar-akar vegetasi yang ada juga mampu menahan gayagravitasional oleh massa tanah akibat terdapat slope atau kemiringan. Read the rest of this entry »

Banjir dalam kasus ini adalah disebabkan oleh kesalahan system dan konstruksi drainase. Pembuatan saluran drainase yang salah dan tidak teratur akan memperbesar peluang banjir.

Saluran drainse dikatakan bermasalah ketika tidak mampu mengakomodir debit ketika banjir. Banyak factor yang menyebabkan konstruksi drainase tidak memenuhi criteria aman. Pertumbuhan kota dan perkembangan industry menimbulkan dampak yang cukup besar pada siklus hidrologi sehingga berpengaruh besar terhadap system drainasi. Sebagai contoh ada perkembangan beberapa kawasan hunian yang disinyalir sebagai penyebab banjir dan genangan di lingkungan sekitarnya. Hal ini disebabkan karena perkembangan urbanisasi, menyebabkan perubahan tata guna lahan, sedangkan siklus hidrologi sangat dipengaruhi oleh tata guna lahan. Oleh karena itu setiap perkembangan kota atau wilayah harus diikuti dengan perbaikan system drainase, tidak cukup hanya pada lokasi yang dikembangkan, melainkan harus meliputi daerah sekitarnya juga.

 Jaringan drainase perkotaan meliputi seluruh alur air, baik alur alam maupun alur buatan yang hulunya terletak di kota dan bermuara di sungai yang melewati kota tersebut

 Analisis hidrologi diperlukan untuk perencanan drainase maupun jembatan yang melintas  ungai atau saluran. Perencanaan fasilitas transportasi bukan satu-satunya kegiatan yang harus mempertimbangkan kelancaran air akibat hujan. Setiap kegiatan yang melibatkan lahan sebagai objek, seperti perumhan, perkantoran, dan industri harus mempertimbangkan aliran air hujan. Pengembangan lahan biasanya diikuti penambahan lapisan kedap air yang berakibat pada peningkatan laju dan volume aliran permukaan.

 Pada beberapa lokasi pengembangan lahan, dimana penambahan lapisan kedap air besar, pembangunan kolam penahan mungkin diperlukan untuk mengontrol kenaikan aliran permukaan. Besarnya beban aliran yang diterima oleh sungai-sungai pada musim penghujan menyebabkan sering terjadinya banjir akibat luapan air sungai. Banjir juga umumnya disebabkan oleh kurangnya daerah resapan air dan daerah retensi, seperti rawa dan tambak yang direklamasi menjadi kawasan pemukiman dan industri. Selama ini disetiap musim hujan selalu timbul masalah banjir yang meresahkan masyarakat di sepanjang saluran drainase. Pemanfaatan tanggul dan bantaran sungai oleh masyarakat setempat menjadi daerah hunian dengan membangun rumah-rumah permanen/semi permanen berdampak terjadinya hambatan aliran dan berkurangnya kapasitas tampung saluran drainase itu sendiri. Berdasarkan kondisi tersebut diatas, maka dipandang perlu untuk melakukan suatu perencanaan normalisasi sungai yang berdasarkan pada prinsip partisipatif dengan kesepakatan dari pihak yang terkait sehingga pengendalian daya rusak air yang terjadi dapat dilaksanakan bersama.

 Untuk mengatur permasalahan infrastruktur tersebut, diperlukan system drainase yang berwawasan lingkungan, dengan prinsip dasar mengendalikan kelebihan air permukaan sehingga dapat dialirkan secara terkendali dan lebih banyak memiliki kesempatan untuk meresap ke dalam tanah. Hal ini dimaksudkan agar konservasi air tanah dapat berlangsung dengan baik dan dimensi struktur bangunan sarana drainase dapat lebih efisien. Untuk dapat memadukan berbagai tingkat kepentingan, maka perlu diupayakan adanya koordinasi antara instansi atau lembaga yang terkait dengan masyarakat.

 Peran serta masyarakat dilakukan dengan pendekatan partisipasif dengan melibatkan seluruh masyarakat yang ada dalam pembangunan system drainase. Di samping itu peraturan yang menjangkau perilaku masyarakat harus berjalan dengan baik dan konsekuen, serta meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memelihara sistem drainase, meningkatkan rasa memiliki dan  eningkatkan sifat peduli terhadap lingkungan. Untuk itu mulai sekarang segala kebijakan publik harus  elibatkan masyarakat baik itu yang berupa pembangunan fisik maupun non fisik, sejak awal  unculnya ide pembangunan infrastruktur sampai dengan pengoperasiannya.

menjaga kelestarian saluran drainasi dari pendangkalan dan sampah

menjaga kelestarian saluran drainasi dari pendangkalan dan sampah

Read the rest of this entry »


Terimakasih atas kunjungannya ^^

Kasih komen ya....,kalo ngga

arsipp

August 2014
M T W T F S S
« Feb    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

ngobrolll

Blog Stats

  • 81,184 hits

jadwal sholat untuk daerah kasihan-bantul-YKT

badges

Btn_wht_122x44
Kajian.Net

pengunjung

free counters

peta

twitter

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,697 other followers